Memperkenalkan Industri “Wellness” Lewat Teknologi

Memperkenalkan Industri “Wellness” Lewat Teknologi

Belajar dari Founder & CEO Doogether Fauzan Gani dalam #SelasaStartup
Founder & CEO Doogether Fauzan Gani / DailySocial
Founder & CEO Doogether Fauzan Gani / DailySocial

Kesadaran masyarakat urban akan pola hidup sehat terus meningkat, menjadikan pusat aktivitas kebugaran dan produk penunjang kesehatan makin diminati. Karena diminati, kehadirannya makin mudah ditemukan, terutama di kota-kota besar.

Topik ini menarik, memunculkan istilah industri wellness karena ada pendekatan digital untuk menghubungkan seluruh kebutuhan tersebut. DailySocial belum lama ini juga merilis riset khusus terkait ini, dengan cakupan responden dari Jakarta.

Kali ini dalam #SelasaStartup edisi pekan kedua November 2019, mengundang Founder & CEO Doogether Fauzan Gani sebagai pembicara. Dia banyak berbagi pengalaman merintis Doogether dan bagaimana memperkenalkan industri wellness ke masyarakat luas.

Doogether adalah startup pemesanan pusat kebugaran yang dirintis sejak 2016. Perluasan vertikal bisnis yang sudah dirambah adalah pemesanan katering sehat dan merchant global distribution untuk segmen B2B.

Potensi industri wellness

Dalam riset DailySocial, wellness didefinisikan sebagai proses aktif yang mengarahkan pada pilihan, kegiatan, dan gaya hidup menuju kondisi kesehatan menyeluruh, baik kesehatan fisik, mental, dan emosional. Aktivitas kebugaran, produk kecantikan, atau produk makanan sehat, termasuk contoh elemen di dalamnya.

Dari 600 responden yang disurvei, menyebutkan produk wellness yang paling banyak diketahui adalah obat-obatan 73,5%, suplemen kesehatan 70%, suplemen makanan 69,2%, dan layanan kebugaran 57%.

Menurut Global Wellness Institute, potensi secara global dari industri ini mencapai $4,2 triliun. Melihat salah satu irisan produknya, makanan sehat berpotensi $702 miliar, dan fitness $595 miliar.

Dari data yang Fauzan kutip, dia menjelaskan tren investasi di Asia untuk industri wellness, Indonesia sedikit tertinggal sejak beberapa tahun belakangan. Namun, Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya, malah kini dianggap berada di waktu yang tepat buat industri wellness menunjukkan taringya.

Diproyeksikan Indonesia akan memiliki 3 juta konsumen pada tahun 2025. Sementara, Tiongkok 6 juta dan India 4 Juta.

Kabar mengenai akuisisi perangkat hardware Fitbit oleh Google, semakin meyakinkan bahwa industri wellness ini akan menjadi industri yang terpisah dari kesehatan pada beberapa tahun mendatang. Sama seperti industri OTA yang kini menjadi industri terpisah dari transportasi.

Awal tahun sebagai pembelajaran

Potensi memang besar, tapi bagaimana perjalanan awal Doogether? Fauzan menceritakan pada 2016 hingga 2018 adalah tahun pembelajaran buat Doogether. Dia mengakui baru tahun ini Doogether punya pamor.

Pada tahun pertama hingga sekarang, banyak pembelajaran dari internal Doogether. Bagaimana bisa mengomunikasikan gaya hidup sehat untuk konsumen, mengingat wellness belum dikenal sama sekali.

Kompetitor pun pada saat itu hanya ada satu, itupun dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat investor sangsi dengan potensi wellness. Lantaran, bila memang potensi besar, mengapa pemain lokal hanya ada Doogether saja?.

Makanya pendekatan awal adalah menyediakan platform pemesanan pusat kebugaran dan olahraga. Insipirasinya cukup simpel, melihat dari tren car free day (CFD) di Jakarta makin lama ramai peminatnya.

“Kita berubah terus, tahun 2016 mulai kita selalu mengikuti apa maunya konsumen. Hingga 2017 selalu ketemu hal-hal baru.”

Tiga tahun pertama, perubahan tampilan kerap terjadi, demi menyesuaikan dengan keinginan konsumen. Traksi pun diakui benar-benar masih minim hingga akhirnya pada 2019 ada titik perubahan produk yang membuat pertumbuhan sangat terdongkrak.

“Ada juga kondisi di industri yang trennya mengikuti industri wellness, seperti Go-Food yang menyediakan merchant berjualan katering sehat. Ini yang menyebabkan juga kenapa kami merilis DooFood.”

Aplikasi Doogether kini menyentuh unsur interaksi sosial antar pengguna. Ini bertujuan untuk menjaga loyalitas mereka dan mengurangi churn rate. Beberapa fitur sosial tersebut, antar pengguna bisa saling cek timeline di mana mereka berolaharaga dan menandai kedatangan mereka di satu tempat gym.

“Fitur tersebut ada setelah kita wawancara dengan responden. Kita temui langsung mereka dan tanya apa saja yang mereka ingin Doogether sediakan.”

Taktik mengurangi strategi bakar duit

Fauzan mengungkapkan bahwa Doogether termasuk startup yang minim melakukan strategi ‘bakar duit’ untuk menarik konsumen baru. Dia meyakini sedari awal perusahaan harus didesain sebagai perusahaan yang profitable untuk menciptakan industri yang sehat.

“Sebenarnya kita baru start spending [marketing] pada kuartal dua tahun ini, sebelumnya enggak pernah. Kita ingin smart spending, harus tahu spend di mana dan dapat apa. Jadi jelas efektifnya.”

Sebelum mulai menganggarkan dana untuk pemasaran, perusahaan memilih strategi kerja sama dengan berbagai pihak. Cara ini dianggap efektif untuk menekan keinginan untuk ‘bakar duit’.

Perusahaan justru menganggarkan dana pemasaran untuk mewawancarai konsumen. Ingin tahu lebih dalam mengapa memilih Doogether, apa saja feedback dari mereka digali dalam-dalam untuk membuat produk sesuai konsumen inginkan.

“Kita jarang banget kasih diskon sebab pada akhirnya yang konsumen pilih itu bukan dari harga, tapi mereka pilih Doogether karena suka dengan apa yang kita berikan,” pungkasnya.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Berita
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…