Categories

Interview

CEO MDI Ventures Donald Wihardja Berbicara tentang Dana Kelolaan Baru, “Exit”, dan Sinergi Startup dengan BUMN

Telkom menggelontorkan dana $500 juta untuk MDI, diharapkan memberikan dampak untuk BUMN lain

Randi Eka - 26 August 2020

MDI Ventures (MDI), corporate venture capital milik Telkom Group, makin meningkatkan produktivitas bisnisnya. Mereka mengumumkan penunjukan Fajrin Rasyid sebagai komisaris utama dan penggelontoran dana kelolaan baru sebesar $500 juta. Secara total, CVC ini berhasil membukukan $790 juta (setara 11,6 triliun Rupiah) yang menjadi dana kelolaan CVC terbesar, tak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia Tenggara.

Sejak beroperasi tahun 2016, MDI telah berinvestasi ke 44 startup di 12 negara. Saat ini mereka juga memiliki unit bisnis yang dijalankan di Singapura dan Amerika Serikat. Dengan berbagai usaha ini, banyak target yang dicanangkan. Salah satunya membantu berbagai BUMN memaksimalkan transformasi digitalnya dengan memanfaatkan kapabilitas startup binaan yang kompeten.

Donald Wihardja di bulan Mei lalu ditunjuk menakhodai MDI Ventures. Bersama timnya, ia merumuskan berbagai agenda strategis untuk memastikan laju CVC Telkom tersebut “on-track”.

Berikut adalah wawancara DailySocial dengan Donald selengkapnya:

DailySocial: MDI Ventures saat ini mengelola dana $790 juta, menjadi dana kelolaan terbesar untuk venture capital di Indonesia saat ini. Bagaimana Anda memaknai capaian tersebut?

Donald Wihardja: MDI Ventures diberi kesempatan besar ini karena kami telah berhasil mengelola dana $100 juta pertama yang kami terima dari Telkom sejak tahun 2015. Kami berhasil melipatgandakan fund tersebut, bukan hanya secara valuasi di atas kertas, tetapi juga berupa likuitiditas di beberapa exit – baik di private exit maupun IPO – selama beberapa tahun belakangan ini. Kami juga berhasil memberikan Rp1,6 triliun synergy/revenue ke Telkom Group.

Tapi ini juga tugas besar untuk MDI. Dengan fund ini kami juga diminta memperluas target kerja sama atau sinergi, tidak hanya dengan Telkom Group tapi dengan seluruh BUMN. Ini kesempatan besar juga untuk startup yang kami bina, untuk membantu merevolusi BUMN di Indonesia, sekaligus meningkatkan kinerja startup tersebut. Sinergi yang kami berikan selalu win-win untuk Telkom Group dan startup.

Siapa saja limited partner yang terlibat dalam pendanaan $500 juta untuk MDI Ventures?

Dana $500 juta ini hanya dari PT Telkom. Fund MDI 500 adalah kelanjutan dari Fund MDI 100 yang kami mulai di 2015. Posisi kami adalah sebagai corporate venture capital Telkom, jadi LP-nya hanya Telkom.

MDI juga diminta oleh Telkom dan sudah berhasil untuk meluncurkan external fund lain, contohnya Telkomsel Mitra Inovasi (co-GP dengan Telkomsel) dan Centauri (co-GP dengan KB dari Korea). Tujuannya supaya kami atau Telkom bisa mempunyai dana lebih besar lagi untuk berinvestasi, sementara LP external juga turut dapat kesempatan meraih keuntungan dari peningkatan nilai startup yang kami asuh, jadi win-win juga.

Di tahun 2020 ini, adakah target khusus terkait berapa banyak investasi yang akan digelontorkan untuk startup?

Kami punya target yang sangat agresif untuk terus mendukung startup di Indonesia, terutama yang berhasil membuktikan mereka bisa beradaptasi di masa Covid-19 ini. Beda dengan banyak VC besar yang biasanya fokus terhadap startup global, kami sangat percaya tentang peran besar dari transformasi digital di Indonesia dan peran besar dari startup untuk mendukung itu. Karena itu kami menyiapkan dana yang cukup untuk mereka.

Tentunya kami tetap hati-hati dalam berinvestasi. Kami siap menyalurkan dana yang cukup tergantung dengan peluang yang ada dan berkualitas.

Banyak segmen yang terbukti berhasil bisa memanfaatkan kesempatan yang ada di dalam pandemi ini. E-commerce dan food delivery sangat membantu konsumer mendapatkan apa yang mereka perlu, dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Healthtech berhasil membuktikan bahwa telemedicine sangat diterima di Indonesia. Banyak fintech juga telah berhasil menavigasi kesulitan dalam Covid-19 secara baik.

MDI 500 ditargetkan untuk later stageinvestment (Seri B dan seterusnya) di perusahaan yang mempunyai revenue kuat, market fit yang terbukti, growth yang terjaga di masa Covid ini, dan tentunya siap berkolaborasi secara win-win dengan Telkom Group dan BUMN.

Telkom Group juga mempunyai beberapa fund lain di investment stages yang lebih awal. Indigo terus digelar untuk menginkubasi startup. Ada juga fund yang menargetkan seed stage, Seri A, dan Seri B. Dengan ini, Telkom Group melalui MDI terus berperan mendukung startup dari tahap awal sampai akhir.

Tahun lalu, kami mencatat MDI Ventures berhasil melakukan 5 exit. Bagaimana pandangan Anda terkait exit untuk MDI Ventures? Bagaimana strateginya?

Pada tahun ini, kami juga telah melakukan beberapa exit terhadap startup yang telah kami investasikan. Seiring dengan munculnya fund baru MDI 500, saat ini kami lebih fokus untuk mengejar nilai sinergi antara startup binaan dengan Telkom Group dan BUMN pada umumnya.

MDI Ventures
Aditia Narendra (GM Corporate Secretary & Legal Counsel), Aldi Adrian Hartanto (VP of Investments), Sandhy Widyasthana (COO & Portfolio Director), Fajrin Rasyid (Chairman), Donald Wihardja (CEO) / MDI Ventures

Di tengah Covid-19, apakah ada penyesuaian tesis investasi? Bagaimana MDI melihat prospek dan iklim investasi setelah pandemi?

Covid-19 adalah Chief Digital Transformation Officer terampuh di dunia dan di Indonesia. Karena itu sebenarnya banyak startup yang sangat layak diinvestasi. Tetapi banyak VC global yang tidak cukup kenal dan karena itu terlalu takut untuk berinvestasi di Indonesia. MDI sebagai pemain lokal sangat mengenal Indonesia dan percaya diri tentang growth di Indonesia, jadi kami terus berinvestasi tapi tentunya dengan hati-hati.

Seperti apa strategi yang akan diterapkan MDI untuk membantu para BUMN mencapai tujuan transformasi digitalnya?

Dana MDI 500 diberikan kepada dengan pesan bahwa MDI harus memperluas kerja sama, yang telah kami buktikan dengan Telkom, dengan seluruh BUMN lainnya. Kami lihat tantangan ini juga sebagai kesempatan, karena dengan ini, Kementerian BUMN juga membantu membuka pintu MDI ke para BUMN tersebut.

Inisiatif yang kami lakukan adalah bekerja sama dengan beberapa CVC BUMN lain dalam menyiapkan solusi untuk mendukung bisnis dari beberapa strategic BUMN cluster. Bersama-sama kami akan mendukung transformasi digital dari BUMN menggunakan startup-startup kami.

Saat ini Telkom juga memiliki inisiatif dana kelolaan seperti Centauri; bahkan anak perusahaannya juga sudah memiliki CVC sendiri seperti TMI. Bagaimana posisi dan peran MDI Ventures? Apa yang menjadi diferensiasi?

Peran MDI di Telkom Group saat ini adalah mempunyai fungsi “scouting”, “investing” dan “build partnership” antara Telkom dan startup (yang sudah proven dan establish). MDI membantu Telkom dalam mengelola Indigo Incubator dan Indigo Accelerator yang fokus untuk mengembangkan startup lokal di seed stage. MDI juga membantu TMI dalam mengelola fund Telkomsel yang akan fokus untuk mendukung sinergi bisnisnya. MDI juga membuka peluang untuk mengelola dana pihak ketiga di luar Telkom Group untuk dapat memperkuat ekosistem startup di Indonesia,

Bagaimana kabar MDI Ventures di Singapura dan Amerika Serikat?

Fund MDI yang diperoleh dari Telkom dikelola menggunakan PT MDI di Indonesia. MDI Pte Ltd di Singapura adalah fund structure yang kami gunakan untuk fund external kami. Karena kebanyakan LP kami adalah dari luar, kami menggunakan fund structure yang lebih cocok untuk kebutuhan mereka. MDI US kami gunakan untuk mencari teknologi dari startup di Silicon Valley yang cocok untuk kebutuhan Telkom dan BUMN.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter